Banyak pemilik usaha pemula di Indonesia sering terjebak dalam perang harga tanpa menyadari bahwa margin mereka perlahan terkikis habis. Seringkali, kita hanya menghitung harga beli barang dan langsung menambahkan untung seadanya. Padahal, berjualan di era digital seperti sekarang melibatkan banyak komponen biaya yang tidak terlihat secara kasat mata.
Salah satu "pembunuh" profit yang paling nyata adalah biaya administrasi marketplace. Jika Anda berjualan di platform besar, potongan 2% hingga 10% mungkin terlihat kecil di awal. Namun, jika Anda tidak memasukkan komponen ini ke dalam rumus harga awal, potongan tersebut akan langsung memotong laba bersih Anda, bukan modal Anda. Inilah alasan mengapa banyak seller merasa "omzet meledak tapi saldo tidak bertambah".
Selain itu, biaya operasional seperti lakban, bubble wrap, hingga kuota internet sering kali dianggap remeh. Dalam jangka panjang, akumulasi biaya kecil ini bisa mencapai jutaan rupiah. Itulah mengapa kalkulasi yang matang menggunakan metode profit margin jauh lebih aman dibandingkan sekadar markup harga. Dengan metode margin, Anda memastikan bahwa persentase keuntungan dihitung dari harga jual akhir, sehingga angka yang muncul adalah profit yang benar-benar bisa Anda kantongi setelah semua biaya terbayar lunas.

