Ragam Kata dari Pengarang untuk Menggambarkan Kondisi Bencana Alam

Bencana alam merupakan salah satu kejadian luar biasa yang membuat semua orang takut, panik, sedih, dan berbagai perasaan lainnya yang saling bercampur aduk.

Bencana alam sendiri adalah peristiwa atau bisa juga serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh atau berasal dari alam, yang memberikan dampak yang luar biasa bagi bumi dan makhluk hidup yang tinggal di dalamnya, termasuk kita manusia.

Bencana alam juga tidak terlepas dari peran manusia, yang merusak alam demi tujuan-tujuan tertentu, yang mengakibatkan potensi bencana alam terjadi semakin besar. Ketika hal ini terjadi, tentu saja semua merasakan dampak dan kerugiannya, tidak terkecuali para perusak alam.

Bencana alam ada banyak sekali jenisnya di seluruh dunia ini. Tetapi, secara umum bencana alam dibagi ke dalam tiga kategori besar, yaitu:

  • Bencana alam geologi, yaitu bencana alam yang terjadi di atas atau di permukaan bumi. Contoh bencana alam yang termasuk ke dalam bencana alam geologi antara lain tsunami, tanah longsor, gunung meletus (erupsi), dan gempa bumi.
  • Bencana alam meteorologi, yaitu bencana alam yang terjadi karena ada kaitannya dengan iklim. Bencana alam ini dapat terjadi di mana saja dan tidak memiliki tempat-tempat khusus dimana dia bisa terjadi. Contoh bencana alam meteorologi antara lain banjir bandang, badai tropis (badai hurikan, badai taifun, dan badai siklon), dan kekeringan.
  • Bencana alam ekstraterestrial, yaitu bencana alam yang datang dari luar angkasa, seperti badai matahari dan jatuhnya benda-benda langit seperti asteroid.

Karena kedahsyatannya, dampak yang ditimbulkan dari bencana alam melahirkan banyak karya-karya, seperti puisi, film, buku, dan lain sebagainya untuk diabadikan.

Contoh Kata-Kata yang Digunakan oleh Penulis atau Pengarang untuk Menggambarkan Kondisi Bencana Alam

Telah disinggung di atas bahwa kedahsyatan dan berbagai dampak yang timbul akibat bencana alam banyak melahirkan karya-karya, terutama karya sastra untuk diabadikan agar semua orang tahu apa yang telah terjadi.

Gambar oleh Dayan Rodio di Pexels

Biasanya, dalam menggambarkan bencana alam melalui tulisan, pengarang atau penulis banyak menggunakan kalimat eksplanasi, yang tujuannyamemaparkan suatu peristiwa atau situasi berdasarkan sudut pandang tokoh-tokoh tertentu, biasanya melalui sudut pandang tokoh utama atau tokoh sampingan.

Dari sudut pandang para tokoh inilah kita bisa mendapatkan informasi dan gambaran tentang apa-apa saja yang terjadi ketika tokoh dalam sebuah karya sastra memaparkan kondisi bencana alam yang dialami atau dilihatnya.

Selain menggunakan kalimat atau teks eskplanasi, pengarang juga memaparkan kondisi bencana alam melalui diksi atau pilihan kata-kata yang mendukung agar pemaparan lewat sudut pandang tokoh dalam tulisan menjadi lebih jelas atau lebih dramatis, agar pesan yang ingin disampaikan penulis atau pengarang sampai kepada para pembacanya.

Nah, kali ini Xamux akan memberikan daftar contoh kata-kata yang sering sekali digunakan oleh penulis atau pengarang untuk menggambarkan kondisi dari suatu bencana alam melalui sudut pandang tokoh-tokoh dalam tulisan mereka.

  1. Kala tsunami itu menyerang, dunia rasanya seperti terbelah dua dan isinya berhamburan ke berbagai penjuru. Bagaikan semut yang tercerai-berai, semuanya berusaha menyelamatkan diri masing-masing dari ancaman gulungan tsunami.
  2. Tidak ada yang menyangka bahwa tanah longsor itu akan datang di malam hari, ketika semuanya terlelap dibuai mimpinya masing-masing. Mimpi indah yang dirusak oleh suara gemuruh tanah.
  3. Bagaikan raksasa yang amarahnya sudah membuncah, begitulah kesannya ketika gempa bumi itu datang, mengguncang dunia. Manusia berlarian kesana-kemari demi menyelamatkan jiwanya dari raksasa bumi yang marah tersebut.
  4. Amalia tercenung, diam membisu. Seperti yang lainnya, dia tak pernah menyangka bahwa dunianya yang ceria dan tenang akan luluh lantak dalam beberapa jam saja. Dunia yang dia kenal kini tak lagi sama. Likuifaksi yang datang dengan ganasnya menelan apa saja yang ada di hadapannya, termasuk rumah dan orang-orang, telah menciptakan dunia yang asing bagi Amalia.
  5. Hari itu merupakan hari yang naas bagi Tamima dan kedua adiknya. Bergandengan tangan bersama pulang dari sekolah, ketiga anak kecil itu harus terdiam membisu melihat angin puting beliung yang memporakporandakan rumah dan desa yang mereka sayangi. Panik, Tamima dan kedua adiknya berlarian mencari orang tua mereka di tengah dahsyatnya puting beliung menerjang desa mereka.
  6. Aku masih mengingat dengan jelas hari itu, sore itu, 26 Oktober 2010. Tidak ada yang tahu, semuanya menjalankan keseharian mereka masing-masing. Tetapi, itu semua harus dirampas dari kami manakala Merapi mulai menyemburkan muntahannya ke bumi, kepada kami semua. Berlarian dan menyaksikan Merapi menelan semuanya menyisakan trauma mendalam, yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata.
  7. Kuberanikan diri melangkah menyusuri apa yang tersisa dari tempatku tinggal pasca tsunami menyerang, beberapa jam setelah bencana naas tersebut pergi. Kususuri jalanan, dimana masih kulihat mayat-mayat tergeletak tak bernyawa, dimana masih kulihat rumah dan bangunan yang disapu oleh tsunami yang tak kenal ampun itu. Masih bisa kulihat jejak-jejak derita yang ditinggalkan, dan seakan-akan ku bisa mendengarnya… jeritan memohon pertolongan dari mereka yang telah tiada.
  8. Husni terdiam, merasakan bumi yang mendadak saja bergetar. Husni bergerak lagi dan bumi bergetar lagi, kali ini bukan Husni saja yang terdiam. Semua merasakannya. Bumi bergetar dan mulai diikuti guncangan-guncangan. Husni berpegangan pada besi penopang halte bus. Bumi kembali bergoncang hebat dan Husni paham: gempa bumi sedang mengguncang tempatnya tinggal.
  9. Mbah Yoen adalah orang pertama yang mengetahuinya. Air sumur rumahnya yang mulai keruh tidak biasa, tiang rumahnya yang mulai tampak miring, dan kerikil mulai berjatuhan dari tebing yang tampaknya rapuh. Mbah Yoen, dengan langkah yang lamban namun tetap berwibawa, meminta cucunya untuk memberitahu Pak RT dan tetangga-tetangga lainnya: tanah longsor akan datang dan semuanya harus bersiap mengungsi.
  10. Hari itu sangat terik, namun sesuatu yang aneh menarik perhatian Bu Rukmini dan beberapa ibu lainnya yang sedang berada di sungai. Hari itu terik dan sudah beberapa hari hujan tidak turun, tetapi air di sungai sangat keruh. Air sungai juga terasa naik dalam cara yang tidak biasa. Bu Rukmini meminta agar mereka semua segera pergi dari sungai; banjir bandang mungkin saja akan datang ke desa mereka.

 

Demikian beberapa contoh kata-kata yang digunakan pengarang atau penulis untuk menggambarkan kondisi bencana alam dalam tulisan mereka.